Suatu hari, sebuah media cetak memuat berita tentang Musdalifah Hijab, sebuah komunitas yang aku rintis sendiri. Sebuah komunitas yang aku pikir bisa menjadi tempat untuk menuangkan segala hal tentang dunia keislaman terutama Hijab -Jilbab-. Sebuah komunitas yang aku rintis untuk mengabadikan ibuku, wanita yang menjadi inspirasiku selama aku hidup dan sampai aku menghembuskan napas terakhir.
Dear, Autumn ..
With my eyes, I could see all the beauty of the world.
With my eyes, I could see the cruel world.
With my eyes, I could see everything.
Saw something I had never seen, even everything I've often seen.
Seeing my mother, seeing my father, seeing my sister, seeing my grandparents, seeing all my family, and also seeing you.
But could you saw me, as I could see you everytime?
Do you see how much I was afraid to lose you?
Not losing you, but losing your love.
God is always fair.
Yeah like I've met you.
Maybe it's justice will be seen when one of us is no more to be seen, right?
I tried to understand what I write and what I feel.
My Heart for You.
“Kamu adalah orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku
kenal.. Tapi kalau aku harus mengulang hidupku lagi.. Aku akan tetap memilih
kamu” –Ainun
Very much problems were happened in our life. And very much sweetest
moment also happened after that problems. As same as you and me, dear.
There is one movie showing at Indoneia’s cinema. Yeah. Habibie&Ainun.
I never watch that movie untill now, I write thi post. Why? I know that 3
million did it. But, I still waiting for my dear to watch that inspire movie
together.
Back to the past untill now. My dear is a difficult person. I have many
ex boyfriend, but he is the best boyfriend ever. Firdaus Fatahillah and I can’t
see any body other. I hope our love and be forever untill we close our eyes. Amiin.
Love is fun. Love is white. And my love for you is the best love that I
ever have. Love you dear.
-Firdaus Fatahillah
Far .. And very far away..
I and you are rarely met. Why? The answer is simply because of the distance. But all is not as bad as my friend. The ditance from Singapore to g\Germany. far right?
We are too busy to study and pursue our goals, the second reason why we rarely see.
I should be grateful, still able to see you even if only once a month.
And I can still wait for you, alone here. and still waiting for you without turning into another heart. And I hope you can take care of your heart, Like me who continue to keep my sincere love for you.
And you must know, I'm here for you because of love. And I still love you yesterday, today, tomorrow, forever. until I closed my eyes.
Firdaus Fatahillah ~
Someone in this post is Michelle Wong.
Thank you , because you have taught me how the importance of patience to face the the distance and the feeling.
Dunia
Untuk Ran *2
Terlihat Ran dan Tata berjalan menuju
pintu pagar sekolah
saat setelah bel pulang mengudara sekitar 15 menit yang lalu.
“Ta, kamu pulang bareng siapa sekarang? Aku ikut, boleh?” Ran membujuk Tata, namunu
bujukan itu tidak tepat pada waktunya.
“Maaf Ran. Aku pulang di jemput Zaky.”
“Aku sama siapa?”
“Aku ngga
tahu Ran.” Tata melihat ke arah Zaky di seberang
jalan. “Ran, aku pulang dulu ya. dadah…” Tata lalu pulang.
Ran berdiri
sendiri di pinggir jalan. Disaat yang beramaan, di
seberang jalan terlihat
pemuda yang nampaknya sedang mengintai sesuatu. Entah apa yang dintainya.
Apakah Ran yang sedang dia intai? Kalau memang benar Ran, pasti hanya Yoga yang
berani mengintai
Yoga menghampiri Ran dengan menaiki sepeda motornya. “Hai Ran,
belum pulang?”
“Iya, Tata
udah pulang duluan. Jadi, aku ngga tahu harus pulang bagaimana.” Jawab Ran
denan suara rendah dan kepala menunduk.
“Pulang bareng aku, mau nggak?”
Nyanyian Baru *1
“Hei Ga...”
Teriak Rafa saat menhampiri dan langsung menepuk pundah kanan Yoga.
Yoga
sontak langsung terkejut dan mengusap-usap dadanya. Rasanya denyut nadinya
sudah tidak dapat diatur lagi. Sepertinya sudah melebihi batas normal denyut
nadi per detik.
“Bagaimana liburanmu
di Jakarta? Menaarik?”
Tegur Rafa yang sedikit mengganggu konsentrasi Yoga. Jelas saja mengganggu,
karena Rafa datang disaat Yoga sedang membaca komik Naruto kesukaannya.
“Ah! Kamu
ini membuat jantungku hampir lepas.” Sesaat Yoga mengatur napasnya.
“Maaf
mungkin aku sengaja.” Rafa tertawa setelah melihat Yoga tiba-tiba berubah pucat
setelah ia kagetkan. “Ayo jawab pertanyaanku! Bagaimana liburanmu di Jakarta?”
“Tidak ada yang istimewa di Jakarta.” Yoga menjawab dengan wajah acuh tak acuh. Mungkin
dengan rasa sedikit kesal karena perbuatan Rafa padanya.

